Sejarah Singkat
A.
Sejarah SMA
Negeri 3 Sejarah SMA Negeri 3 Yogyakarta tidak
lepas dari julukan sekaligus nama besar PADMANABA. Bahkan,
khalayak tertentu lebih paham dan terkesan dengan nama PADMANABA daripada SMA
Negeri 3 Yogyakarta. SMA Negeri
3 Yogyakarta, yang menempati bangunan dengan luas 3.600 m2 di atas lahan seluas 21.640 m2 , di kawasan Kotabaru ini, pada zaman kolonial Belanda
sampai pecah PD II (Desember 1941) dikenal sebagai AMS (Algemene Middelbare Schol) afdelling B. Pendidikan yang
diselenggarakan waktu itu lebih berorientasi pada kepentingan pemerintah
kolonial. Siswa sekolah ini umumnya adalah anak-anak bangsawan (elite pribumi)
dan anak-anak pegawai pemerintah kolonial. Perlakuan diskriminatif berkaitan
dengan ras dan status sosial, serta pendidikan yang menekankan aspek disiplin
yang ketat serta sikap patuh terhadap pemerintahan kolonial, tak pelak lagi
menghasilkan generasi dengan sikap rendah diri di kalangan bangsa pribumi
terhadap bangsa kulit putih, serta tumbuhnya perasaan pada anak-anak pribumi
sebagai warga kelas dua di tanah air sendiri. Hal demikian mengakibatkan
terhambatnya perkembangan intelektualitas bangsa pribumi. Rupanya ini sengaja
dilakukan oleh pemerintah kolonial waktu itu, agar tetap berkuasa di bumi
pertiwi Nusantara tercinta. Berkat
hidayah dan rahmat Allah, kalangan anak-anak pribumi yang menjadi siswa sekolah
ini memiliki kepribadian serta sadar
sebagai bangsa yang bermartabat, sehingga tergugah untuk mewujudkan kemerdekaan
bangsa. Dalam perjalanan waktu yang panjang, anak-anak pribumi alumni AMS B
semakin banyak dan tersebar di seluruh nusantara. Tidak sedikit dari mereka
tumbuh menjadi tokoh-tokoh masyarakat dan pejuang patriot yang terlibat
langsung dalam pasang-surut perjuangan bangsa ini dari prakemerdekaan sampai
era reformasi sekarang. Mereka adalah mutiara generasi masa lalu dan teladan
bagi negerasi penerus. Alumni AMS
B menyatu tergabung dalam naungan organisasi KELUARGA ARGABAGYA, yang sampai
sekarang selalu aktif melakukan pertemuan-pertemuan dan kegiatan, sebagai
aktualisasi kepedulian mereka terhadap dinamika almamater. Salah satu wujudnya
adalah Gedung Pertemuan Argabagya yang berdiri megah di sayap barat gedung sekolah Lahirnya Padmanaba Pada masa pemerintahan pendudukan Jepang
(Juni 1942), AMS B diubah menjadi
SMT ( Sekolah Menengah Tinggi ) bagian A dan bagian B. Pada tanggal 19
september 1942, bertolak dari azas kebersamaan yang tumbuh dari perasaan
senasib sebagai bangsa tertindas, tumbuh suatu keberanian sekaligus suatu
kesepakatan untuk membentuk wadah berorganisasi bagi keluarga besar pelajar
yang ada, dengan nama PADMANABA. Dalam wadah ini, para pelajar mengalami
penggodogan mental dan pembentukan sikap patriotisme serta nasionalisme yang
mendorong mereka sekaligus untuk melakukan latihan keprajuritan. Padmanaba tak
ubahnya kawah candradimuka bagi terlahirnya ksatria-ksatria pejuang bangsa. Sebagai bukti sikap ksatria dan kepejuangannya adalah pada perjuangan perebutan senjata di Kotabaru dari tangan Jepang, kemudian Agresi Militer II pendudukan tentara Belanda atas Kotabaru, serta medan-medan pertempuran yang lain, banyak putra-putra Padmanaba ikut angkat senjata bergabung dengan Tentara Pelajar mengusir kolonial Belanda. Semburan merah darah pejuang yang gugur mewarnai persada, adalah bukti
keikhlasan dan kebanggaan mereka mengabdikan hidupnya bagi martabat bangsa.
Mereka yang gugur sebagai kusumabanga, antrara lain: Faridan M. Noto, Suroto
Kunto, Sudiarto, Joko Pranoto, Jumerut, Kunarso, Suryadi dan Purnomo. Di balik semua itu, PADMANABA ternyata mengandung kisah tersendiri yang
juga memiliki romantika dalam upaya melahirkan generasi yang memiliki
kepribadian pejuang dan watak Ksatria. Di tahun 1942, Bapak R.J. Katamasi, menugaskan para muridnya
untuk menggambar. Objeknya adalah teratai merah yang ada di kolam di halaman
tengah sekolah. Dengan kearifan seorang begawan beliau terlebih dahulu
menjelaskan tentang arti dan makna folosofi teratai merah itu. Teratai merah (Nelumbium Speciosum) dalam bahasa sanskerta disebut PADMA. Dalam kepercayaan agama bangsa-bangsa timur, PADMA merupakan salah satu lambang sakral untuk banyak hal yang menyangkut masalah kehidupan manusia. Dari kehidupan teratai yang bersahaja dapat ditarik banyak pelajaran. Apabila air pasang, teratai naik. Sementara bila air surut terataipun turun. Daun teratai yang senantiasa mengapung rata di permukaan air tak pernah kotor sekalipun hidup di air keruh. Bunga yang muncul dari dalam air itu tetap bersih, segar dan indah. Akar yang kait-mengait dalam dasar kolam membuat teratai tidak gampang meninggalkan hidupnya. Semua itu melambangkan sikap kematangan dan kemapanan, dan kejuangan serta sikap cinta tanah air yang telah menghidupinya. Teratai merah/lotus melambangkan kesucian. Teratai merah membangun kehidupan harmoni dengan lingkungannya tanpa mengorbankan jatidirinya. Ia tetap bersih sekalipun air di sekelilingnya kotor. Keindahannya terjangkau oleh siapapun dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Dalam agama Budha sikap semedi Sang Budha Gautama juga digambarkan seperti
posisi bunga teratai (Lotus position).
Sang Budha duduk di atas singgasana yang disebut “Padmasana” (sana=tempat),
atau pusat tempat tumbuh bunga teratai. Padmanaba berarti sesuatu yang pusatnya
berbunga teratai, (naba=pusat). Sungguh agung makna filosofis bunga teratai. Mitos mengenai bunga teratai yang lain adalah seperti pada agama Hindu,
bahwa padma tumbuh dari pusar Dewa Wishnu ketika terbangun dari semedinya di
atas Ananta. Dan dari padma tersebut kelak akan lahir Dewa Brahma. Padma yang
keluar dari pusar dewa Wishnu tadi mempunyai makna folosofis kesucian,
keberanian, dan kemajuan. Dalam dunia pewayangan, Wishnu --juga Kresna sebagai
titisannya-- disebut juga sebagai Padmanaba. Demikianlah, bila logo Tunas kelapa (Pramuka) melambangkan cita-cita tumbuh
berkembang menjadi insan multiguna seperti pohon kelapa, maka kuncup teratai
melambangkan cita-cita pertumbuhan menjadi manusia yang suci, beriman dan taqwa
(Padmanaba). Dalam
kisah melukis teratai merah seperti
diceritakan di depan, yang dinilai terbaik adalah lukisan karya Suhud.
Akhirnya, Suhud diberi tugas membuat “logo” organisasi Padmanaba berupa teratai
merah, dengan dua kelopak bunga dan delapan daun yang tersusun menjadi dua
lapis yang arah keduanya bertolak belakang, seperti logo yang dapat kita lihat
sekarang. Dalam membuat logo Padmanaba, Suhud dibantu oleh Sulaiman. Ksatria
pemuda Suhud berhasil pula mempersembahkan lagu Mars Padmanaba, yang senantiasa
dikumandangkan sampai saat ini sebagai lagu kebanggaan keluarga Padmanaba. Sampai saat ini organisasi Padmanaba tetap langgeng, berkembang menjadi organisasi yang makin tangguh, kompak, dinamis dan tanggap terhadap kebutuhan pembangunan bangsa dan negara tercinta. Kepala Sekolah Sejak
berdiri hingga sekarang SMA Negeri 3
Yogyakarta mengalami pergantian nama dan kepala sekolah. Setelah pada tahun
1942 namanya diubah dari AMS B menjadi SMT
Bagian A dan B, pada tahun 1948 nama sekolah ini diubah menjadi SMA
Bagian B. Tahun 1956 bernama SMA III-B. Pada tahun 1964 nama sekolah ini adalah
SMA Negeri 3 Yogyakarta. Sejalan dengan pembaruan pendidikan dan kurikulum,
pada tahun 1994, sekolah ini diubah menjadi SMU Negeri 3 Yogyakarta, dan mulai
tahun 2004 kembali bernama SMA Negeri 3 Yogyakarta, seiring dengan digunakannya
Kurikulum SMA 2004. Sejak tahun 1942 sampai sekarang, sekolah ini telah mengalami 19 kali pergantian kepala sekolah. Nama-nama kepala sekolah sejak tahun 1942 adalah sebagai berikut: (1) 1942 – 1945: R. Katamsi, (2) 1945 – 1946: Prof. Dr. Soegarda Poerbokawotjo, (3) 1946 – 1947: Prof. Dr. Priyono, (4) 1947 – 1950: Ir. Marsito, (5) 1950 – 1951: Drg. Nasir Alwi, (6) 1951 – 1956: Muh. Sjahlan, (7) 1956 – 1963: R. Soecipto, (8) 1963 – 1971: Moedjono Probopranowo, S.H., (9) 1971 – 1976: Utoyo Darmabrata, (10) 1976 – 1981: Haji Muh. Solihin, (11) 1981 – 1985: Drs. Oetoro, (12) 1985 – 1987: Drs. Wahyuntana, (13) 1987 – 1991: Ariento Sukotjo, (14) 1991 – 1993: Drs. Mashari Subagijono, (15) 1993 – 1997: Drs. Soenarto, (16) 1997 – 2002: Drs. Nursisto, (17) 2002 - 2004: Drs. H. Mashadi AR., (18) 2004 - 2005: Dra. Hj. Sri Ruspita Murni, dan (19) 2005 - 2007: Drs. Bambang Supriyono, M.M., (20) 2007 – 2009: Drs. H. Bashori Muhammad, M.M., (21) 2009 – sekarang: Dra. Dwi Rini Wulandari, M.M. |
Visitors : 6514 visitors
Today : 33 users